Langsung ke konten utama

MENCEGAH ARUS URBANISASI DENGAN MEMANFAATKAN POTENSI DESA

Sampai saat ini fenomena perpindahan penduduk dari desa menuju ke kota telah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, yang biasa disebut dengan urbanisasi. Arus urbanisasi ini merupakan salah satu harapan seseorang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, karena mereka menuju ke kota memiliki tujuan untuk mencari pekerjaan yang dianggap lebih menguntungkan bagi mereka. Hal ini dapat dibenarkan karena terdapat perbedaan kondisi perekonomian di wilayah pedesaan yang masih relatif kecil dibandingkan di perkotaan yang lebih intensif. Perbedaan infrastruktur menjadi alasan utama kenapa pemusatan perekonomian selalu dijalankan di wilayah kota-kota besar. Wilayah pedesaan cenderung tertinggal dari segi fasilitas dan instrumen pendukung aktivitas perekonomian lainnya. Selanjutnya, dengan kondisi yang seperti itu akan menyebabkan sedikitnya jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia di desa dan tidak mampu menampung jumlah penduduknya yang akan terus bertambah. Sedangkan di wilayah kota sendiri juga mengalami persoalan yang sama dalam hal lapangan kerja. Terus meningkatnya jumlah perduduk urban yang tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja di kota menyebabkan munculnya pengangguran yang jika tidak segera diatasi akan berubah menjadi tindakan kriminal yang dapat merugikan banyak pihak.

Maka dari itu, perhatian kita saat ini harus memikirkan bagaimana langkah-langkah untuk mencegah atau mengurangi jumlah urbanisasi agar permasalahan yang sedang menunggu di depan mata dapat diatasi. Cara paling utama dapat dimulai dari wilayah desa itu sendiri, yaitu dengan menciptakan lapangan kerja di wilayah pedesaan. Kebiasaan orang-orang desa yang melakukan produksi barang-barang mentah kemudian langsung disalurkan ke distributor tanpa mengolahnya terlebih dulu harus dibenahi. Karena dengan melakukan pengolahan terlebih dulu terhadap hasil bumi yang diproduksi oleh para petani dapat menciptakan lapangan kerja yang cukup besar bagi orang-orang desa. Hal ini tergantung dari cara inovasi dan kreativitas masing-masing penduduknya bagaimana agar kegiatan produksi yang dihasilkan dapat mempunyai nilai tambah yang lebih besar dari biasanya. Dengan dilakukannya proses pengolahan barang mentah ini, setidaknya dapat mencegah tenaga kerja yang membutuhkan pekerjaan agar tidak sampai melakukan urbanisasi ke kota, karena kepastian mereka untuk memperoleh pekerjaan dikota juga masih diragukan dengan melihat aktivitas ekonomi yang berlangsung sangat ketat di perkotaan. Contoh dari pemberdayaan masyarakat melalui proses pengolahan ini seperti melakukan pengemasan sendiri pada beras yang yang dihasilkan para petani desa sebelum dijual kepada pihak distributor. Dengan begitu, petani dapat menjual beras kemasannya sesuai dengan harga beras kemasan yang banyak bersaing di pasaran. Sebenarnya masih banyak cara inovatif yang harusnya bisa diterapkan oleh masyarakat desa. Untuk itu perlu ditingkatkan proses edukasi dan penyuluhan di desa-desa agar potensi masyarakat yang ada dapat dimaksimalkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 4 : Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan

Model Kontemporer Pembangunan dan Keterbelakangan Pada bab ini dijelaskan mengenai beberapa teori baru yang berpengaruh dalam model ekonomi pembangunan. Meskipun kesuksesan model dalam mecapai pembangunan sulit dicapai yang dikarenakan banyaknya hambatan diluar perkiraan, tetapi model baru ini dapat membantu memperbaiki perumusan strategi pembangunan yang lebih baik. Teori pertumbuhan baru menganalisis secara terus-menerus pertumbuhan pendapatan nasional yang ditentukan dalam sistem bukan kekuatan eksternal seperti yang dikatakan oleh teori neo-klasik yang mengatakan bahwa sebagian besar sumber pertumbuhan ekonomi merupakan faktor eksogen atau proses yang sama sekali independen dari kemajuan teknologi. Meski begitu, dalam teori pertumbuhan baru juga masih menyimpan kelemahan, bahwa teori ini tetap tergantung pada sejumlah asumsi neo-klasik yang sering tidak cocok dengan perekonomian negara berkembang. Keterbelakangan sebagai Akibat Kegagalan Koordinasi Awal abad ke-21 ko...

Proses Pembuatan Kendang Jimbe

Proses Pembuatan Kendang Jimbe 1.      Pemotongan Kayu             Pertama kali yang harus dilakukan adalah mengukur panjang kayu dan dipotong sesuai ukuran, mulai dari yang terkecil 10cm, 15cm, 20cm, 30cm, 40cm, 50cm, 60cm, 70cm dan yang paling besar 1,5 meter. Setelah dipotong sesuai ukuran selanjutnya bagian kayu luar dihilangkan dengan cara dikelupas menggunakan pisau besar sampai bagian putih kayu terlihat. 2.      Pembubutan             Syarat kayu yang akan dibubut harus sudah dikelupas dan masih yang agak basah, jika kayu sudah kering tidak bisa dibubut lagi. Proses pembubutan kayu ini menggunakan alat bubut yang dijalankan oleh mesin diesel dan membentuknya menggunakan linggis atau besi besar yang sudah dimodifikasi ujungnya.             ...

TENTANG "BUDI LUHUR"

Pada postingan pertama ini, saya akan membahas tentang perusahaan yang bernama UD Budi Luhur Drum. Perusahaan ini bergerak dibidang industri kerajinan dan manufaktur. Bahan baku yang digunakan adalah kayu, biasanya kayu mahoni. Contoh produk yang dihasilkan yaitu kendang atau jimbe dan telah menjadi produk unggulan di Kota Blitar. Pemiliknya adalah Bapak Tohari, beliau memulai mendirikan usaha yang bertempat di Desa Sentul Kota Blitar ini sejak tahun 1990. Berkat kerja keras dan kegigihannya dalam mengembangkan usaha ini, banyak penghargaan yang telah diperolehnya, dari tingkat daerah hingga tingkat Nasional. Perusahaan ini menjual produknya tak hanya di dalam kota bahkan sampai ekspor ke luar negeri. UD Budi Luhur terletak di Jl. Antasari Kel. Sentul Kec. Kepanjen Kidul Kota Blitar. Usaha ini tidak berjalan secara individu, melainkan mempunyai banyak mitra kerja yang terpusat pada satu daerah, karena tujuan utama dari kegiatan ini adalah menyediakan lapangan pekerjaan bagi...