Langsung ke konten utama

TEMPAT WISATA DI BLITAR #2



TEMPAT WISATA DI BLITAR #2

            Postingan kali ini adalah lanjutan untuk melengkapi TEMPAT WISATA DI BLITAR #1
1.     Kampung Coklat
            Tempat wisata ini masih tergolong baru dan belum cukup populer. Bertempat di Darungan, Kademangan, Kabupaten Blitar. Lama perjalanan dari kota sampai tempat ini kurang lebih 15 menit.
            Sebenarnya Kampung Coklat ini bukanlah sebuah tempat yang ditawarkan untuk berpariwisata, karena permulaan tempat ini adalah sebuah perkebunan yang dikelola oleh kelompok tani yang ada di desa tersebut. Karena telah mencapai keberhasilan dalam pengelolaannya, maka kebun ini mulai membuka untuk digunakan tempat studi wisata bagi para pelajar untuk belajar tentang pengolahan coklat. Agar dapat menghasilkan keuntungan akhirnya tempat ini dibuka untuk umum dengan dikenakan tarif Rp 5000 per orang dan mendapat respon positif dari masyarakat.
            Di kampung coklat ini hanya ada hal-hal tentang coklat, seperti pohon coklat, bibit pohon coklat, makanan olahan dari coklat dan juz coklat. Disini sangat cocok untuk dijadikan tempat nongkrong, karena tempatnya yang asri dan tertutup oleh pohon-pohon coklat.

2.     Kebon Rojo
            Ini merupakan tempat wisata berupa Taman Kota yang letaknya di belakang rumah dinas Walikota Blitar. Tempatnya lumayan luas dan sebagian besar didalamnya adalah pepohonan. Disini juga memelihara beberapa hewan seperti kera, burung cedrawasih, rusa dan masih banyak lagi lainnya. Selain hewan- hewan peliharaan, tempat ini juga dihiasi dengan patung-patung hewan yang bermacam-macam jenisnya.
            Tempat ini sudah mengalami renovasi dan mendapat perawatan dari pemerintah. Untuk memasuki taman wisata ini anda tak perlu mengeluarkan biaya tiket masuk. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TENTANG "BUDI LUHUR"

Pada postingan pertama ini, saya akan membahas tentang perusahaan yang bernama UD Budi Luhur Drum. Perusahaan ini bergerak dibidang industri kerajinan dan manufaktur. Bahan baku yang digunakan adalah kayu, biasanya kayu mahoni. Contoh produk yang dihasilkan yaitu kendang atau jimbe dan telah menjadi produk unggulan di Kota Blitar. Pemiliknya adalah Bapak Tohari, beliau memulai mendirikan usaha yang bertempat di Desa Sentul Kota Blitar ini sejak tahun 1990. Berkat kerja keras dan kegigihannya dalam mengembangkan usaha ini, banyak penghargaan yang telah diperolehnya, dari tingkat daerah hingga tingkat Nasional. Perusahaan ini menjual produknya tak hanya di dalam kota bahkan sampai ekspor ke luar negeri. UD Budi Luhur terletak di Jl. Antasari Kel. Sentul Kec. Kepanjen Kidul Kota Blitar. Usaha ini tidak berjalan secara individu, melainkan mempunyai banyak mitra kerja yang terpusat pada satu daerah, karena tujuan utama dari kegiatan ini adalah menyediakan lapangan pekerjaan bagi...

Proses Pembuatan Kendang Jimbe

Proses Pembuatan Kendang Jimbe 1.      Pemotongan Kayu             Pertama kali yang harus dilakukan adalah mengukur panjang kayu dan dipotong sesuai ukuran, mulai dari yang terkecil 10cm, 15cm, 20cm, 30cm, 40cm, 50cm, 60cm, 70cm dan yang paling besar 1,5 meter. Setelah dipotong sesuai ukuran selanjutnya bagian kayu luar dihilangkan dengan cara dikelupas menggunakan pisau besar sampai bagian putih kayu terlihat. 2.      Pembubutan             Syarat kayu yang akan dibubut harus sudah dikelupas dan masih yang agak basah, jika kayu sudah kering tidak bisa dibubut lagi. Proses pembubutan kayu ini menggunakan alat bubut yang dijalankan oleh mesin diesel dan membentuknya menggunakan linggis atau besi besar yang sudah dimodifikasi ujungnya.             ...

MENCEGAH ARUS URBANISASI DENGAN MEMANFAATKAN POTENSI DESA

Sampai saat ini fenomena perpindahan penduduk dari desa menuju ke kota telah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, yang biasa disebut dengan urbanisasi. Arus urbanisasi ini merupakan salah satu harapan seseorang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, karena mereka menuju ke kota memiliki tujuan untuk mencari pekerjaan yang dianggap lebih menguntungkan bagi mereka. Hal ini dapat dibenarkan karena terdapat perbedaan kondisi perekonomian di wilayah pedesaan yang masih relatif kecil dibandingkan di perkotaan yang lebih intensif. Perbedaan infrastruktur menjadi alasan utama kenapa pemusatan perekonomian selalu dijalankan di wilayah kota-kota besar. Wilayah pedesaan cenderung tertinggal dari segi fasilitas dan instrumen pendukung aktivitas perekonomian lainnya. Selanjutnya, dengan kondisi yang seperti itu akan menyebabkan sedikitnya jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia di desa dan tidak mampu menampung jumlah penduduknya yang akan terus bertambah. Sedangkan di wilayah kota sendiri juga...